Pelatihan Komunikasi Positif Orangtua, Guru, dan Anak

Tgl Aktivitas: 8 November 2012 Tempat: HSKS Jati Bening Peserta: Guru HSKS Jati Bening

Narasumber Wina Yunitasari, S.Pd (Manager Pendidikan & Pembekalan Guru HSKS Jatibening)

Dalam lingkungan yang selalu kita lewati di kehidupan sehari-hari, tentunya kita selalu bersentuhan dengan “Komunikasi”. Sementara itu pahamkah kita apa yang dimaksud dengan “komunikasi?”.

Komunikasi tak dapat lepas dari kehidupan mahluk sosial, dan tentunya kita sebagai mahluk sosial sangat bergantung dengan adanya komunikasi antar manusia, di mana pun kita berada. Hal ini erat kaitannya dengan hubungan antar manusia yang sangat saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana menjaga hubungan komunikasi agar menimbulkan dampak yang positif sehingga membuat semua berjalan sesuai dengan tujuan yang baik?

Dalam dunia panggung atau drama, kita dapat melihat bagaimana komunikasi sangat berperan untuk dapat menyampaikan pada penonton adanya pesan yang tersirat dalam pertunjukan tersebut. Namun mengapa hal ini menjadi sulit bagi kita ketika terjun di masyarakat, kita sering mendapati hambatan dalam berkomunikasi dengan rekan atau bahkan dengan keluarga kita, yang sering berdampak pada kesalah pahaman. Anda tentunya pernah mengalami, bukan?

Kalau saja kita selalu dapat menggunakan dialog pada drama di atas panggung ke dalam kehidupan sehari-hari kita, mungkin komunikasi efektif akan dapat terjalin, tetapi dalam kehidupan nyata tak dapat kita pungkiri begitu banyak kejutan-kejutan yang terjadi. Mulai dari saling mengejek, rebutan mainan, baju yang belum dicuci saat ingin dipakai, makanan yang kurang berselera atau tak ada makanan sama sekali, PR yang belum dikerjakan, dan masih banyak lagi.

Jika dalam adegan panggung, problema yang terjadi tentunya sudah ada dalam skenario sehingga persoalan menjadi mudah karena solusi sudah dipikirkan dan direncanakan, dan hanya terfokus pada satu persoalan yang pemainnya tentu sudah memahami apa yang harus dilakukan. Untuk itu saat di panggung, ketika acara selesai berbagai persoalan dapat ditinggalkan.

Lain halnya dalam dunia nyata, sebagai orangtua kita tidak dapat melepaskan persoalan berikutnya begitu saja tanpa adanya kelanjutan pemahaman dan mencari solusi, karena kita tak mungkin membiarkan persoalan semakin berlarut-larut. Sehingga anak/siswa tak paham langkah selanjutnya karena kehidupan terus berjalan, artinya persoalan pun terus ada menghampiri kita semua.

Terjadi kesalahpahaman antara orangtua dengan anak atau guru dengan siswa adalah, kita sebagai orang dewasa cenderung menginginkan anak kita seperti yang kita inginkan, menurut dan seperti yang masyarakat pada umumnya menginginkan. Orangtua selalu ingin, bersih, teratur,sopan, baik, rajin, dan sebagainya. Lalu berujung pada marah jika hal tersebut tak dicapai oleh kita sebagai orangtua, tanpa kita pahami apa sebenarnya yang mereka inginkan sebelum kita pun menyampaikan keinginan kita.

Tentunya inilah yang dimaksud dengan “bagaimana komunikasi yang efektif dan positif” pada anak-anak agar kita dan mereka dapat saling memahami, sehingga kedua tujuan dari dua pihak dapat terwujud dengan baik yang berdampak positif bagi anak, untuk langkah ke depannya.

Perlu dipahami, dalam membina komunikasi positif penting untuk kita melakukan latihan terlebih dahulu , sebelum kita lakukan pada anak atau siswa kita. Selain itu penggunaan bahasa, intonasi, bahasa tubuh, harus diperhatikan agar saat kita berbicara dan berkomunikasi kita pun sudah siap, menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Hal ini tidak mudah, itu pasti. Tetapi berlatih dan mencoba dengan upaya yang maksimal agar kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh dengan sehat ,kreatif, sensitif ,mandiri dan bertanggung jawab dengan bahagia, harus dilakukan.

Langkah-langkah utama yang perlu kita kenali adalah :

  1. Memahami perasaan
  2. Mengenali dan memahami bentuk perasaan
  3. Memahami bahasa tubuh
  4. Mengenali dan menghindari penghalang komunikasi
  5. Menentukan masalah siapa ini?
  6. Bekerjasama memecahkan masalah
  7. Mendengar aktif
  8. Pesan yang dituju

Ke delapan point di atas tentunya sangat membutuhkan latihan yang intensif terutama pemilihan bahasa, gaya bicara, intonasi dan bahasa tubuh kita yang seringkali lupa untuk kita perhatikan dalam berkomunikasi dengan anak atau siswa kita. Langkah-langkah tersebut merupakan pedoman untuk kita pada saat berkomunikasi dengan putra/i atau pun siswa/i di rumah atau pun di sekolah.

Tentunya komunikasi efektif dan positif ini akan memudahkan kita semua dalam menyampaikan berbagai macam pelajaran, peraturan, saat mereka berada langsung di masyarakat dalam menjalankan kehidupannya kelak. Secara keseluruhan, hal ini akan membantu kita dalam mengasah keterampilan sikap lainnya, salah satunya , ketrampilan sikap disiplin.

Pustaka :
Pelatihan Komunikasi dalam Pengasuhan Anak, Yayasan Buah Hati 2002