Lenong Persada, Pentas Sekolah Beraroma Betawi

Tgl Aktivitas: Tempat: Peserta:

Juki putranya Babe Sabeni berhasil lulus dari SMP ‘Homeschooling Persada’ dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA dimana dia memperoleh teman-teman baru juga dengan beraneka polah masing-masing. Sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Betawi, Juki pun aktif mengikuti berbagai aktifitas tradisional khas pribumi kota Jakarta itu. Salah satunya dengan bergabung dalam sebuah kelompok musik tanjidor, naaah …saat Juki dan kelompoknya tengah memainkan musik mereka, ternyata ada sekelompok teman SMA-nya yang diam-diam memotret Juki lalu menayangkannya di medsos dengan niat untuk membully. Juki kampungan, Juki norak … kira-kira begitulah pesan utama dari konten olok-olok mereka.

Tentu saja Juki dan kawan-kawan merasa tersinggung, akibatnya terjadilah perdebatan antar dua kelompok itu yang berakhir dengan Juki memaparkan sekilas tentang salah satu pasal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang intinya berisi ancaman pidana penjara empat tahun atau denda senilai Rp. 750 juta bagi mereka yang terbukti melakukan pencemaran nama baik di medsos. Kedua kelompok akhirnya bermaafan dan rukun kembali.

Mungkin bagi kalangan yang memahami tanjidor  sempat kepikiran, apa kuat anak jebolan SMP yang notabene masih imut menyandang alat musik tiup logam seberat piston alias  French horn  atau tambur kulit sapi/kerbau? Jangan cemas, mereka hanya membawa replikanya saja yang terbuat dari hasil daur ulang kardus bekas dan musik diatoniknya pun mengalun dari putaran cd karena semua kejadian di atas merupakan bagian dari pagelaran budaya para  homeschooler  jenjang TK sampai SMA di Homeschooling Persada, Jatibening Baru (Bekasi), pada Sabtu (7/4) pagi lalu di Kampus Rumah Belajar Persada.

Bukan sekedar menampilkan pertunjukan teater lenong khas Betawi lengkap dengan kelompok penonton, dimainkan oleh para  homeschooler, yang duduk di dekat pentas dan sigap menimpali percakapan dan merespon polah para pelakonnya; keseluruhan lokasi acara dari mulai pintu masuk sampai dengan panggung utama pun kental dengan nuansa Betawi. Kembang-kembang kelapa yang terbuat dari batang lidi dan kertas krep warna-warni bisa ditemukan di hampir setiap sudut ruang, payung-payung kertas yang kerap dijadikan properti tarian tradisional berbagai daerah pun tampil menyiratkan semangat kebhinekaan, dan tentu saja gambar sepasang ondel-ondel berwajah manis ditampilkan untuk menyambut para tamu di lobi utama.

Lagu-lagu dan tarian khas Betawi pun dipilih untuk menjadi pengisi di sela pergantian babak lenong yang dimainkan. Tentu saja dalam versi yang telah disederhanakan mengingat para pemainnya bukan penari tradisional, melainkan para pelajar yang berlatih memanfaatkan waktu istirahat pelajaran kelas setelah turut pula dalam pembuatan berbagai pernak-pernik dekorasi pagelaran. Yah, hampir semua merupakan hasil buatan tangan para  homeschooler  lintas jenjang bersama guru-guru mereka.

Seluruh aktifitas para homeschooler  dalam proses persiapan menjadi bahan penilaian para guru karena istilah ‘belajar’ pada hakekatnya lebih luas dari sekedar kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Bahkan para orangtua yang sengaja diundang hadir menyaksikan pagelaran budaya pun diberikan formulir untuk menilai juga performa putra-putri mereka. Sebuah cara yang manis untuk selalu mengingat bahwa pendidikan anak merupakan proses berbagi tanggungjawab secara proporsional antara orangtua dan guru.