Makna Teknologi Dalam Puisi Siswa SD dan SMP

Narasumber:

Pada hari pembagian rapot semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 di Homeschooling Persada, Jatibening Baru, Bekasi; yang dilaksanakan Sabtu (16/12) lalu digelar rangkaian acara menarik yang mengeksplorasi potensi kecerdasan majemuk para siswa jenjang SD-SMA. Salah satunya adalah penampilan Raffael Matteo Putra Arta (kelas V SD) dan Bunga Mawar Putih (kelas IX SMP) membacakan puisi hasil karya mereka yang terpilih menjadi juara Lomba Puisi Kategori SD dan SMP pada kegiatan Lomba Literasi memperingati Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober setiap tahunnya.

Lomba Puisi tersebut mengambil tema selaras dengan agenda pembelajaran tematik tahun ajaran ini yang menetapkan ‘Teknologi Industri’ sebagai fokus kajian semua mata pelajaran.  Cukup menarik melihat sudut pandang Raffael dan Bunga tentang tema tersebut yang mereka tuangkan dalam puisi mereka.

Teknologi bagi Raffael identik dengan bermain alias nge-game sebagaimana terpampang dalam puisinya yang berjudul ‘PS-ku’, PS adalah kependekan dari  play station. Ekspresi jenaka bermain di wajahnya kala dia didaulat membacakan puisi karyanya yang ditulis dengan bahasa sederhana namun terpelihara konsistensi pikiran utamanya. Berikut ini kutipan puisi karya Raffael.

PS-ku …// Aku harus merawatnya//dengan baik supaya tidak cepat rusak//setiap hari aku membersihkannya dengan baik//

PS-ku …// Aku sangat senang punya sebuah PS//setiap pulang sekolah aku memainkannya//memainkan game yang aku suka//

PS-ku …//Suatu teknologi yang aku suka//tanpa PS aku merasa bosan//karena itu aku selalu menyimpannya dengan baik//

PS-ku …//ketika PS-ku rusak aku sedih//dan aku tidak bisa memperbaikinya// aku segera membawanya ke tempat service//

Manfaat produk teknologi untuk menghibur diri yang dirasakan oleh Raffael juga menghadirkan sebuah kerangka tentang komitmen seperti memainkan PS sepulang sekolah, memastikan nya disimpan rapi setelah digunakan, dan membawa ahlinya untuk memperbaiki saat terjadi kerusakan. Komitmen sederhana yang sebenarnya tetap aktual bagi pengguna produk teknologi lintas usia agar tetap di posisi sebagai pengendali teknologi untuk perbaikan kualitas kehidupan dan bukannya malah  diperbudak oleh teknologi hingga memboroskan waktu percuma tanpa produktifitas yang bermakna.

Sementara kakak kelas Raffael, Bunga, mengingatkan kita semua bahwa teknologi punya dua sisi yang harus disikapi dengan bijak. Puisi Bunga yang berjudul ‘Teknologi’ sudah memiliki keteraturan rima dalam bait-baitnya. Berikut kutipan puisinya.

Dulu, tangan kanan kita memegang bambu// Dulu, kita berjuang memperebutkan kemerdekaan//Sekarang, tangan kiri kita memegang gadget maju// Sekarang, kita menjadi kebarat-baratan//

Ya, teknologi//Teknologi memang berguna dan berisi//Ya, teknologi// Teknologi juga bisa membunuh potensi//dan prestasi//

Kita boleh update dan kekinian//Tapi jangan lupa darimana kita lahir// Kita bisa bergaul dari orang Inggris sampai Indian//Tapi jangan lupa ajaran agama dari awal sampai akhir//

Marilah anak Indonesia// Positif teknologi bisa kita telan//Ayolah anak yang berkarya,//Negatif teknologi harus kita lawan//

Sesuatu yang sederhana bisa melahirkan adikarya, seperti ‘bambu’ untuk ‘memperebutkan kemerdekaan’, tapi teknologi canggih tanpa kebijakan saat memanfaatkannya bisa jadi malah ‘membunuh potensi dan prestasi’. Fenomena aktual saat ini, banyak orang melupakan fungsi utama kemanusiaannya karena terlena dalam keasyikan berselancar di dunia maya rupanya tak luput dari pengamatan Bunga.

Bahkan dia pun sudah menangkap adanya penggerusan jatidiri dan degradasi moral di kalangan para pecinta gadget yang melahirkan kalimat ‘…jangan lupa darimana kita lahir’ dan ‘…jangan lupa ajaran agama …’. Kekuatiran Bunga pun mengerucut  pada ajakan di bait akhir puisinya  ‘positif teknologi bisa kita telan’ namun ‘negatif teknologi harus kita lawan’.

Komitmen dan integritas diri dalam penguasaan teknologi adalah kunci utama seleksi alam di era yang serba canggih berorientasi teknologi tinggi, kedua hal itulah yang akan menentukan siapa penentu kebijakan dan siapa yang hanya mampu mengekor saja karena daya inovasinya yang rendah.

homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling  | homeschooling bekasi | homeschooling bekasi | homeschooling Bekasi | homeschooling bekasi| homeschooling bekasi | homeschooling bekasi | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar  | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar |rumah belajar jakarta | rumah belajar jakarta | rumah belajar jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta