Saat Anak Balita Belajar Pancasila

Narasumber:

Doni A Kusuma (2011)  menyatakan bahwa ada lima metode dalam  pelaksanaan pendidikan karakter di institusi sekolah, yaitu mengajarkan, memberikan teladan, menentukan prioritas, mempraktekkan prioritas, dan refleksi. Bagi peserta didik kelompok pra sekolah, yang terdiri atas siswa Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK), metode yang dominan digunakan adalah mengajar.

Pilihan itu didasarkan pada kebutuhan peserta didik yang masih berada dalam periode masa emas perkembangan (golden age) dimana mereka membutuhkan  asupan edukasi dasar sebanyak-banyaknya untuk membangun fondasi karakter mereka yang nantinya akan sangat berpengaruh pada kualitas diri mereka, termasuk bahagia-suksesnya, di masa dewasa. Konsep bermain sambil belajar dengan perencanaan yang matang dibutuhkan agar anak-anak balita yang menjadi peserta didik dapat menerima asupan edukasinya dengan cara yang menyenangkan.

Pertimbangan di atas pula yang mendorong Wina Yunitasari, SPd., Kepala KB dan TK ‘Persada’ di Jatibening Baru (Bekasi), untuk terus mengembangkan metode mendidik karakter para siswanya berbasis persuasi kreatif yang pekat unsur bermainnya. Para guru menempatkan diri sebagai ibu sekaligus teman bermain bagi anak-anak didik mereka.  Aneka cerita, jalinan percakapan, dan bermain bersama menjadi benang merah tebal yang memadukan berbagai edukasi motorik, sensorik, serta pengenalan awal berbagai nilai kehidupan yang baik.

Maka meluncurlah sila-sila Pancasila dengan terbata-bata khas bocah baru belajar bicara dari  mulut mungil Menik ( 3 tahun, bukan nama sebenarnya) yang melakukannya sambil bergelendotan manja pada Bu Guru. Saat ada jeda karena dia mengingat-ingat potongan kata yang terselip entah di bagian mana memorinya, teman-teman dengan sukarela mengingatkan dibimbing guru mereka yang dengan bahasa sederhana mendorong mereka untuk membantu teman yang tengah dalam kesulitan.. Hal itu kembali berulang ketika Raka (4 tahun, bukan nama sebenarnya) menalar lambang-lambang yang digunakan untuk merepresentasikan setiap sila.

Penjabaran sederhana tiap sila dari Pancasila diajarkan setiap hari dalam bentuk doa bersama sebelum dan sesudah belajar, main bersama dilanjut dengan merapihkan berbagai mainan yang digunakan bersama-sama pula, bertanggungjawab atas berbagai tindakan yang dilakukan semisal melap larutan pewarna yang tertumpah ke lantai saat mewarnai, dan banyak lagi keteladanan dalam keseharian yang diajarkan para guru yang tergabung dalam Tim Guru PKBM ‘Tamansari Persada’ ini, bukan hanya lewat nasehat lisan namun juga lewat contoh-contoh nyata yang mereka lakukan.

Apabila nilai-nilai kehidupan yang diajarkan di sekolah oleh para guru dapat disinergikan dengan pendidikan internal keluarga oleh para orangtua di rumah, maka kita bisa berharap bahwa para balita tersebut kelak akan bertumbuh dewasa menjadi sosok-sosok berkarakter tangguh bahagia sebagai pemenang dalam kehidupan mereka masing-masing.

homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling | homeschooling bekasi | homeschooling Bekasi | homeschooling Bekasi | homeschooling bekasi| homeschooling bekasi | homeschooling bekasi | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling Jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | homeschooling jakarta | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar | rumah belajar |rumah belajar jakarta | rumah belajar jakarta | rumah belajar jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta | rumah belajar Jakarta