Jadi Gulliver Di Pasar Terapung Lembang

Tgl Aktivitas: 5 Oktober 2016 Tempat: Floating Market Lembang Peserta: Homeschoolers Jenjang SD-SMP

Pernah membaca atau mendengar dongeng tentang seorang dokter dari Inggris yang gemar berlayar dan kemudian terdampar di negeri liliput? Liliput adalah versi mini dari kurcacinya Snow White, ukuran tubuhnya kira-kira sebesar setengah kepalan tangan manusia. Imut sekali, kan?

Ketakjuban para homeschooler jenjang SD-SMP Homeschooling Persada, Jatibening Baru, Bekasi, saat tiba di Taman Miniatur Kereta Api yang terletak di Floating Market Lembang pun nampaknya beda-beda tipis saja dengan Gulliver saat mendapati dirinya terbangun dalam keadaan terikat dikelilingi oleh ratusan liliput.

Begitulah, miniatur berbagai jenis kereta api lengkap dengan tampilan stasiun, rel, pegunungan, sungai, jaringan jalan, bahkan ke sosok-sosok manusia dengan segenap aktifitasnya dalam bentuk boneka-boneka kecil dihadirkan dengan sebisa mungkin menyerupai bentuk aslinya berhasil membuat mereka terkagum-kagum bahkan sangat antusias memperhatikan bagaimana kereta-kereta mungil itu bergerak merayapi rel sesuai rutenya. Apalagi suara khas gemuruh dan lengkingan peluit kereta api juga terdengar sesekali menghantar ingatan pada suasana stasiun kereta yang sesungguhnya. Keseluruhan panorama tersebut dihadirkan dengan skala 1 : 24 dari ukuran aslinya.

Para guru pun mengarahkan homeschooler bimbingan mereka untuk mengamati, mencatat, dan menggambar seluk-beluk taman tersebut di lembar kerja siswa. Selain di taman terbuka, maket panorama dengan miniatur kereta api yang bisa digerakkan dengan listrik pun dapat mereka saksikan kembali di sebuah ruangan khusus yang terletak di dekat pintu masuk taman.

Setelah selesai beraktifitas di Taman Miniatur Kereta Api, selanjutnya para homeschooler didampingi guru-guru mereka beranjak menuju  pasar terapung alias Floating Market Lembang dengan cara menyeberangi sungai menggunakan perahu dayung atau berjalan kaki memutari rute tepian sungai menuju ke sana. Aneka jajanan tradisional maupun kekinian menanti mereka di sana dari mulai bandrek,air jahe hangat yang manis dengan parutan kelapa muda di dalamnya, serabi, batagor, tahu gejrot, sampai kentang goreng lilit. Berbagai cinderamata seperti mainan anak-anak, topi anyaman, dan lainnya tersedia pula di sana bersama beragam oleh-oleh khas yang siap dibawa pulang.

Cara bertransaksi di pasar terapung itu menggunakan koin-koin plastik berwarna-warni yang dapat ditukar senilai rupiah tertentu. Koin khusus ini ada 4 jenis dengan 4 warna berbeda sesuai dengan nilai koin tersebut. Nilai koin yang ada yaitu 5,000 (kuning), 10,000 (biru), 50,000 (pink), dan 100,000 (oranye).

Sensasi menarik lainnya dari pasar yang lokasinya mengapung di permukaan sungai tersebut terjadi saat gerakan air agak kuat membuat bangunan yang dominan berbahan bambu tersebut sedikit bergoyang-goyang. Ikan-ikan gemuk yang dipelihara di sekitar pasar pun menyita perhatian para homeschooler SD saat mereka berebutan mencaplok butir-butir pellet makanan ikan yang ditaburkan ke dalam sungai.

Begitulah, selain mencicipi kesegaran di alam terbuka, mereka pun mendapat pengetahuan baru tentang perkeretapian, pemanfaatan sungai dan bambu, serta pemanfaatan koin untuk bertransaksi. Bukan hanya itu saja, mereka pun dapat belajar berinteraksi dengan para guru, teman-teman sebaya, dan lingkungan sosial yang baru. Plus dorongan edukatif guru-guru agar mereka bertumbuh menjadi individu berkarakter unggulan dengan penganugerahan Jelajah Award bagi homeschooler yang memenuhi kriteria.

Reportase Jelajah lainnya dapat dilihat via http://www.kompasiana.com/rumahbelajar_persada