Zoraida Karim (Hj. Ida Achyar Darwis)

Ketidaksengajaan ternyata telah membuahkan suatu karya yang berharga dan memiliki nilai seni tinggi. Itulah yang pernah dilakukan Zoraida Karim, atau yang akrab disapa Oma Karim. Ia mengaku awal kecintaannya pada seni lukis sekitar bulan November 2009, atas motivasi dari sang cucu, Edwin Makarim, akhirnya Oma Karim berhasil menyelesaikan satu karya lukis di mana lukisan itu merupakan karya sang suami yang belum tuntas.

Ketertarikan Oma pada seni lukis semakin tergugah saat membaca surat Ar-Rachman ayat 55 dari kitab suci Al-Qur’an di mana disebutkan bahwa semua yang ada di alam ini mengandung unsur keindahan, rasa syukur, dan janji Allah SWT yang pasti dipenuhi. Selanjutnya, Oma mulai menorehkan kuas di atas kanvas dan lukisan-lukisan yang dihasilkan berdasarkan ide serta imajinasi sendiri tanpa mencontoh gambar lain.

Kini Oma menjadi salah satu murid di Kelas Melukis di Rumah Belajar Persada, di bawah bimbingan Alianto. Bahkan Oma telah menghasilkan 9 (Sembilan) karya lukis dan pada tahun 2010 pernah mengikuti pameran lukis bersama di Grand Indonesia.

Menurut Oma, dengan melukis banyak manfaat yang didapat, di antaranya dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan, melatih kesabaran, hati menjadi lebih lapang, ingatan terasah, dan kecerdasan hati pun bertambah.

“Saya akan tetap melukis selama diberikan umur yang berkah dari Allah SWT dan alam selalu menjadi inspirasi untuk karya-karya lukisan saya selanjutnya. Saya senang karena dengan melukis ada kepuasan bathin tersendiri yang dapat saya rasakan,” ujar Oma.